oleh : Rizki Haerunisa (Departemen Proteksi Tanaman-Fakultas Pertanian)

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) 20 September 2011
Departemen of Family & Consumer Sciences- College of Human Ecology
Bogor Agricultural University

  • Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

    Season 4

    Pertanyaan terkait pengolahan informasi dan persepsi konsumen, antara lain :
    1. Apa yang dilakukan pemasar untuk meminimalkan konsumen yang tidak bisa mengingat semua informasi (stimulus) yang diberikan sehingga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen?
    Jawaban :
    Lupa merupakan sifat alamiah dari konsumen. Hal ini dapat terjadi karena berlalunya waktu. Konsumen mungkin memperoleh suatu informasi beberapa bulan yang lalu, konsumen berusaha memanggil kembali atau mengingat informasi tersebut (retrieval) dan gagal. Oleh karena itu pemasar harus meminimalkan keterbatasan manusia (lupa) tersebut dengan menayangkan iklan secara rutin, menggunakan iklan yang menarik dengan menggunakan musik karena konsumen mudah mengingat pesan dalam bentuk lagu (jingles)dibandingkan kata-kata saja.

    2. Bagaimana stimulus (informasi) yang diterima oleh konsumen diolah sehingga dapat mempengaruhi keputusannya dalam membeli sebuah produk?
    Jawaban :
    Pengolahan informasi pada diri konsumen terjadi ketika salah satu panca indra konsumen menerima input dalam bentuk stimulus. Stimulus bisa berbentuk produk, merek, kemasan, iklan, dan nama produsen. Tahap pengolahan informasi dibagi menjadi lima tahap, yaitu pemaparan (exposure), perhatian (attention), pemahaman (comprehension), penerimaan (acceptance), dan retensi (retention).

    3. Mengapa produsen perlu mempelajari proses pengolahan informasi dan persepsi konsumen?
    Jawaban :
    Produsen perlu mempelajari proses pengolahan informasi dan persepsi konsumen dalam memasarkan produknya karena pengolahan informasi terjadi ketika salah satu pandaindera konsumen dalam menerima input berupa stimulus. Stimulus dapat berbentuk produk, nama merk, kemasan, iklan, nama produsen. Oleh karena itu, produsen dapat merancang stimulus agar menarik perhatian dan dapat diterima oleh konsumen. Dengan demikian, konsumen dapat tertarik dengan iklan produknya, menyukai produknya dan membelinya. Selain itu pengolahan informasi ini penting agar produsen dapat merancang proses komunikasi yang efektif bagi konsumen.

  • oleh : Rizki Haerunisa (Departemen Proteksi Tanaman-Fakultas Pertanian)

    Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen)
    Departemen of Family & Consumer Sciences- College of Human Ecology
    Bogor Agricultural University
    Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc


    Tugas Kuliah Perilaku Konsumen Selasa Pagi
    Motivasi dan Nilai
    Season 2

    Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
    Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
    Dengan model ini, Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan manusia bertingkat, mulai dari kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi pada bagian bawah piramid, dan kebutuhan manusia meningkat terus ke atas apabila jenis kebutuhan yang dasar sudah terpenuhi. Mulai dari kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis, kemudian berlanjut ke kebutuhan akan keamanana (safety), kebutuhan dicintai (Love/belonging), kebutuhan untuk rasa percaya diri (Esteem), dan kebutuhan puncak, yaitu aktualisasi diri (self-actualization).
    Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
    1. Kebutuhan Fisiologis
    Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
    2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
    Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
    3. Kebutuhan Sosial
    Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
    4. Kebutuhan Penghargaan
    Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
    5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
    Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

    Dua slogan pakaian jeans berdasarkan Maslow Teori
    1. Jeans, keep style in every moments (Ego Needs)
    2. All I really needs is you, my jeans! (Psychological Needs)

    oleh : Rizki Haerunisa (Departemen Proteksi Tanaman-Fakultas Pertanian)

    Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen)

    Departemen of Family & Consumer Sciences- College of Human Ecology

    Bogor Agricultural University

    Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

    Season 3
    Persamaan kepribadian positif yang dimiliki kebanyakan individu dalam kelompok saya antara lain :
    - Mandiri
    - Bertanggung Jawab
    - Humoris
    - Gigih
    - Sabar
    Persamaan kepribadian negatif yang dimiliki kebanyakan individu dalam kelompok saya, antara lain :
    - Boros
    - Temperamen
    - Pelupa
    - Cuek
    - Manja
    Gaya hidup yang berkembang pada masyarakat Indonesia saat ini adalah konsumtif, dimana masyarakat Indonesia memenuhi keinginan mereka terlebih dahulu daripada memenuhi kebutuhan yang seharusnya bukan pilihan untuk terpenuhi. Pemenuhan Keinginan tersebut dilandasi oleh gaya hidup yang kebarat – baratan dan telah masuk sedikit demi sedikit ke dalam kebudayaan timur bangsa kita. Masyarakat masih banyak yang terbawa arus untuk memenuhi gaya hidup kebarat – baratan sehingga timbul perilaku seks bebas, konsumsi obat – obatan terlarang dan minuman keras serta merokok yang kebanyakan diketahui bukan hasil budaya bangsa kita. Selain itu, hedon atau kegiatan berkumpul yang tidak menghasilkan suatu produk namun menggunakan suatu produk secara terus menerus dilakukan oleh masyarakat Indonesia, ditunjukkan dengan banyaknya cafe – cafe yang di dekorasi menarik disambut antusiasisme masyarakat yang memang senang berkumpul di tempat makan dan cafe sambil mengobrol.

    Anggota Kelompok Kuliah :
    Yelli Sofiana A24080140
    Rizki Haerunisa A34080024
    Aldila Rachmawati A34080070
    Diah Anggraini W C34080070
    Selviyani C34080085
    Giovanni Anggia S G14070066
    Irsyad Satria G14100095

    oleh : Rizki Haerunisa (Departemen Proteksi Tanaman-Fakultas Pertanian)

     

    Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen)

    Departemen of Family & Consumer Sciences- College of Human Ecology

    Bogor Agricultural University

    Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc

    Session 1

    Konsumen memiliki beberapa pengertian, antara lain :

    1. Pengguna barang, jasa, dan lingkungan.

    2. Pembeli, pengguna, dan membuang bekas penggunaan barang atau jasa yang telah dibelinya.

    3. Orang yang membelanjakan uang untuk membeli barang dan jasa yang merupakan produk paling akhir dari sistem ekonomi.

    4. Pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

    Perilaku konsumen merupakan suatu tindakan individu, kelompok, maupun organisasi dalam memilih, mengamankan, menggunakan dan menghentikan produk, jasa, atau ide untuk memuaskan kebutuhannya. Perilaku konsumen merupakan studi yang melibatkan sikap atau usaha untuk memenuhi kebutuhan, keputusan, kepuasan, evaluasi, selera, tawar-menawar, serta persepsi atau penilaian konsumen dalam membeli dan memakai suatu produk atau jasa. Pengambilan keputusan sebagai proses penting yang mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam proses pengambilan keputusan ada tiga tahapan proses yang dilakukan yakni tahap pengakuan adanya kebutuhan dari konsumen, adanya usaha pencarian informasi sebelum membeli dan penilaian terhadap alternatif.

    Ilmu perilaku konsumen bermanfaat untuk kepentingan penyusunan strategi  pemasaran. Berdasarkan sikap konsumen, pemasaran dapat menyusun strategi promosi, khususnya iklan secara tepat. Oleh karena itu perusahaan dapat memahami dengan tepat kebutuhan dan keinginan konsumen sesuai dengan selera sehingga dapat terwujudnya kepuasan pelanggan. Dari segi ekonomi, perilaku konsumen juga dapat membantu dalam memberikan pemahaman tentang keterkaitan antara kebijakan harga dengan respon perilaku konsumen serta adanya perbedaan perilaku konsumen. Bagi konsumen sendiri, mempelajari perilaku konsumen akan bermanfaat  agar menjadi konsumen yang bijak, dan bagi pemasar akan sangat bermanfaat dalam mengenali kebutuhan dan keinginan guna menyusun strategi pemasaran.

     

    Nama               : Rizki Haerunisa                  Tanggal praktikum : 11 Mei 2010

    NRP                : A34080024                        Bahan Tanaman      : Vigna sinensis

    Mayor              : Proteksi Tanaman                Asisten  : 1. Vitria Melani G34050386

    Kelompok       : 2                                                        2. Risa Swandari G34062569

    Inisiasi Akar

    Tujuan           :

    Merangsang pembentukan akar pada stek batang kacang panjang dengan auksin

    Pendahuluan   :

    Zat Pengatur Tumbuh atau ZPT digunakan untuk mengendalikan dan mendukung kelangsungan hidupnya.  Unsur ZPT ini merupakan hormon pada tumbuhan yang merupakan senyawa kimia yang diekskresi oleh suatu organ atau jaringan yang dapat mempengaruhi organ atau jaringan lain dengan cara khusus. Berbeda dengan yang diproduksi oleh hewan senyawa kimia pada tumbuhan sering mempengaruhi sel-sel yang juga penghasil senyawa tersebut disamping mempengaruhi sel lainnya. Dan salah satu tipe Zat Pengatur Tumbuhan tersebut yang telah diidentifikasi yaitu auksin (Anonim, 2008).

    Auksin merupakan hormon terhadap tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sifat penting auksi adalah berdasarkan konsentrasinya, dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan. Auksin bersifat memacu perkembangan meristem akar adventif sehingga sering digunakan sebagai zat perangsang tumbuh akar pada stek tanaman. Auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung.

    Asam indol-3 asetat (IAA) diidentifikasi tahun 1934 sebagai senyawa alami yang menunjukkan aktivitas auksin yang mendorong pembentukan akar adventif. IAA sintetik juga telah terbukti mendorong pertumbuhan akar adventif. Pada era yang sama juga ditemukan asam indol butirat (IBA) dan asam naptalen asetat (NAA) yang mempunyai efek sama dengan IAA. Dan skarang sesungguhnya, hal itu ditunjukkan bahwa inisiasi sel untuk mmbentuk akar tergantung dari kandungan auksin (Anonim, 2008). Pembentukan inisiasi akar dalam batang terbukti tergantung pada tersedianya aiksin di dalam tanaman ditambah pemacu auksin (Rooting Co-factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordia akar.

    Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya kan mampu menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar (Salisbury dan Ross, 1995).

    Hasil Pengamatan

    Tabel.

    No. Perlakuan Air Destilata Hoagland

    + hara mikro

    Hoagland +

    0,1 mg IAA/l

    Hoagland +

    1,0 mg IAA/l

    1 Jumlah baris akar lateral - 2 akar 2 akar 1 akar
    2 Jumlah akar lateral (panjang > 1 mm) - 11 akar 4 akar 4 akar
    3 Jumlah primodia akar lateral (panjang < 1 mm) dalam tiap baris - 0 0 0
    4 Panjang akar lateral (mm) - 30 mm 5 mm 25 mm

    Pembahasan

    Pembentukan inisiasi akar dalam batang terbukti tergantung pada tersedianya auksin di dalam tanaman ditambah pemacu auksin (Rooting Co-factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordia akar (Anonim, 2008). Selain dipengaruhi oleh hormon auksin, pertumbuhan akar juga dipengaruhi oleh adanya karbohidrat dalam stek, dimana karbohidrat merupakan sumber energi dan sumber karbon (C) terbesar selama proses perakaran. Akumulasi karbohidrat banyak terdapat dibagian pangkal stek, sehingga hanya bagian pangkal saja yang dapat tumbuh akar. Pertumbuhan akar pada stek bagian pangkal (pada nomor ruas 3-6) lebih cepat membentuk akar dibanding stek yang diambil pada bagian tengah (nomor ruas 8-11), karena pada bagian pangkal stek memiliki rasio C/N yang tinggi, dimana bahan stek dengan rasio C/N tinggi akan lebih mudah dan lebih cepat membentuk akar. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Hartman et al., (1990), jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga akan terhambat walaupun kandungan karbohidrat pada stek tinggi, karena unsur N berkorelasi negatif dengan proses perakaran pada stek (Lakitan 1996).

    Larutan Hoagland mengandung lebih banyak bahan organik yang diperlukan oleh tanaman sehingga akan merangsang pertumbuhan akar. pada perlakuan 1 hanya digunakan air destilata, sedangkan perlakuan 2 menggunakan larutan Hoagland + hara mikro. Akar lateral lebih banyak muncul pada perlakuan 2. Faktor lain dari selain auksin adalah nutrisi sebagai faktor inisiasi akar. dalam jaringan batang, faktor tumbuhan yang utama adalah karbohidrat dan nitrogen. Sehingga pada larutan Hoagland (perlakuan 2) yang mengandung nutrisi dapat menginisiasi akar lebih optimum dari pada perlakuan 1.

    Pada percobaan ini, tanaman yang digunakan yaitu Vigna sinensis atau kacang panjang yang ditanam di dalam polibag dengan kedalaman lubang ± 1,5 cm. Selama 5 hari, tanaman disiram menggunakan larutan Hoagland. Setelah hipokotil keluar kemudian tanaman dipindahkan ke dalam botol dengan tutup yang berlubang 3 buah. Tiap botol diisi oleh larutan Hoagland yang diencerkan 4x,  larutan Hoagland ditambah 0,1 mg IAA/l, larutan Hoagland ditambah 1,0 mg IAA/l. Setelah seminggu dilakukan pengamatan terhadap jumlah baris akar lateral, jumlah akar lateral, jumlah primodia akar lateral dalam tiap baris, dan panjang akar lateral. Jumlah baris akar lateral pada larutan Hoagland dan larutan Hoagland yang ditambah 0,1 mg IAA/l sama yaitu 2 akar, sedangkan yang ditambah larutan 1,0 mg IAA/l hanya ada 1 baris akar lateral saja.

    Pengaruh hormon auksin dalam percobaan ini adalah untuk merancang inisiasi akar, pembesaran sel, dan pembelahan sel pada kambium. Pada praktikum ini pengaruh hormone auksin adalah inisiasi akar pada batang, daun dan bagian-bagian lain dari tumbuhan. Konsentrasi auksin yang efektif untuk inisiasi akar adalah 100.000 kali lebih rendah dari konsentrasi optimum untuk proses inisiasi akar. Hal ini terjadi karena konsentrasi auksin yang merangsang pertumbuhan batang akan menghambat pertumbuhan akar, begitu pula sebaliknya. Pada percobaan ini yang paling efektif adalah 0,1 mg IAA/l karena dapat dilihat dari data bahwa jumlah baris akar lateral, jumlah akar lateral lebih banyak dibandingkan pada konsentrasi 1,0 mg IAA/l walaupun panjang akar lateral lebih panjang konsentrasi 1,0 mg IAA/l  dibandingkan konsentrasi 0,1 mg IAA/l  yang cenderung lebih pendek dari tanaman control. Pertumbuhan panjang akar dapat dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor genetik dan faktor jumlah daun. Faktor genetik berperan dalam mengkoordinasi gen yang membangun sistem perakaran, sedangkan faktor jumlah daun bertanggung jawab dalam meningkatkan perkembangan akar, karena daun merupakan tempat sintesis makanan (fotosintesis), dan selanjutnya makanan akan ditranslokasikan menuju akar untuk perkembangan akar. Untuk menumbuhkan akar pada stek diperlukan energi yang diperoleh dari karbohidrat dan protein yang dikandung oleh stek (Irwanto 2003).

    Penggunaan auksin diketahui dapat mengintensifkan proses pembentukan akar pada stek. Pengaruh auksin tersebut berupa aktivasi hidrolisis polisakarida, dan akan menghasilkan gula aktif yang digunakan dalam pembelahan sel dan pembentukan primordia akar menjadi akar. Pertumbuhan akar dari stek batang terjadi pada bagian yang terpotong, karena bagian yang terpotong tersebut akan menghasilkan kalus (sekumpulan sel yang belum terdiferensiasi). Kalus selanjutnya akan terdiferensiasi membentuk primordia akar.

    Kegunaan dari aplikasi hormon auksin dilapang adalah untuk mempercepat inisiasi akar pada stek (perbanyakan tanaman ) baik stek batang maupun stek daun karena pengaruh hormon auksin yang dapat mempercepat pemanjangan sel, mencegah absisi, merangsnag pembelahan didaerah cambium, mempercepat inisiasi akar, tetapi menghambat pertumbuhan tunas lateral.

    Kesimpulan

    Auksin IAA dapat berfungsi untuk menstimulasi pembelahan sel dalam inisiasi pembentukan akar adventif. Untuk menumbuhkan akar pada stek diperlukan energi yang diperoleh dari karbohidrat dan protein yang dikandung oleh stek. Konsentrasi auksin yang efektif untuk inisiasi akar adalah pada konsentrasi 0,1 mg IAA/l. Kegunaan dari aplikasi hormon auksin dilapang adalah untuk mempercepat inisiasi akar pada stek (perbanyakan tanaman ) baik stek batang maupun stek daun.

    Daftar Pustaka

    Anonim. 2008. Auksin. http:// id.wikipedia.org/, diakses pada tanggal 27 Mei 2010

    Anonim. 2008. Peranan Zat Pengatur Tumbuh, http://mybioma.wordpress.com/. diakses pada tanggal 27 Mei 2010

    Anonim. 2008. Plant Growth Regulator. http://emirgarden.blogspot.com/. diakses pada tanggal 27 Mei 2010

    Irwanto. 2003. Pengaruh Hormon IBA (Indole Butyric Acid) Terhadap Keberhasilan Stek Gofasa (Vitex cofassus Reinw). http://www.irwantoshut.com. 27 Mei 2010

    Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

    Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

    Perilaku, Wilayah Jelajah, Jelajah Harian, Relung Ekologi dan Teritori monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)

    ABSTRACT

    Although long-tailed  monkey (Macaca fasicularis) is one of mammals animals. The main objectives of the preliminary research were to understand homerange, niche, teritorial and habitat type of long-tailed  monkey inhabiting Bogor Agricultary University Dramaga. And other result is behavior of this species.  This species was mostly found near river and at tall trees.

    Keywords : monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), jelajah harian, wilayah jelajah, wilayah teritori, relung ekologi, perilaku


    PENDAHULUAN

    Negara Indonesia mempunyai keanekaragaman satwa liar yang tinggi dan tersebar di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk banyak kepentingan manusia. Primata merupakan hewan pertama yang berharga bagi manusia sebagai hewan kesayangan dan juga tercatat sebagai hewan tertua yang digunakan untuk subyek penelitian ilmiah. Salah satu diantaranya yang sering digunakan dalam penelitian ilmiah adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari genus Macaca (Bennet, 1995). Di Indonesia, monyet ini dapat ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau kecil lainnya (Napier dan Napier, 1985).

    Menurut Alikodra (1990) perilaku adalah kebiasaan–kebiasaan satwaliar  dalam aktivitas hariannya seperti sifat kelompok, waktu aktif, wilayah pergerakan,  cara mencari makan, cara membuat sarang, hubungan sosial, tingkah laku  bersuara, interaksi dengan spesies lainnya, cara kawin dan melahirkan anak.

    Wilayah jelajah (homerange) merupakan daerah yang dikunjungi satwaliar  secara tetap karena dapat mensuplai pakan, minuman serta mempunyai fungsi  sebagai tempat berlindung, bersembunyi, tempat tidur dan tempat kawin. kawin.  Daerah jelajah adalah  suatu daerah dimana satwa  tertentu pernah dilihat dan bergerak pindah dalam kurun waktu tertentu.

    Jelajah harian adalah jarak yang ditempuh monyet ekor panjang, sejak meninggalkan sarang tidur (pagi) sampai kembali ke sarang tidur (sore) dalam sehari.

    Teritori adalah tempat yang khas yang selalu dipertahankan dengan aktif misalnya tempat tidur untuk primata, tempat beristirahat untuk binatang  pengerat dan tempat bersarang untuk burung (Alikodra 1990).

    Relung (ekologi) adalah posisi unik yang ditempati oleh suatu spesies tertentu berdasarkan daerah fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di dalam komunitasnya. Relung ekologi adalah jumlah total semua penggunaan sumber biotik dan abiotik oleh organisme di lingkungannya

    Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui wilayah jelajah, jelajah harian, wilayah teritori, relung ekologi (niche), dan perilaku (Macaca fascicularis) di kampus IPB Darmaga.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian dilakukan enam kali pengamatan di wilayah kampus IPB Darmaga. Penentuan wilayah jelajah harian, relung ekologi serta teritori Macaca fascicularis dilakukan berdasarkan penjumpaan visual di lokasi survey selama dua jam dengan asumsi setiap individu yang teramati adalah individu yang berbeda. Survey dilakukan dengan memasuki kawasan secara langsung. Perjalanan dari satu plot pengamatan  ke plot lainnya lumayan jauh. Alat yang digunakan selama pengamatan adalah binocular dan kamera handphone.

    Pengamatan perilaku makan, perilaku seksual dan jenis makanannya dilakukan secara visualisasi langsung. Untuk mendokumentasikan perilaku, pengamat menggunakan kamera handphone.

    Luas wilayah jelajah ditentukan dengan metode Minimum Convex  Polygon yang terdapat dalam software ArcView. Metode ini menghubungkan titik-titik koordinat terluar tempat bekantan beraktivitas.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Pengamatan dilakukan hanya pada satu zona yaitu di zona 3, di arboretum hutan bambu samping rektorat karena persebaran monyet ekor panjang di kampus IPB Darmaga hanya ada pada zona ini saja dan merupakan habitatnya. Pengamatan dilakukan sebanyak 6 kali, dimulai pukul 08.00 selama dua jam. Pada saat pengamatan, jarak antara objek dengan pengamat yaitu sekitar 10m. Monyet ekor panjang pertama terlihat sedang makan diatas pohon. Ketinggian  tempat monyet hinggap pada pohon bambu dari tanah adalah 5 m. Kelompok monyet yang terlihat sekitar 7-8 ekor. Pengamatan pendahuluan dilakukan terhadap perilaku agresif macaca dengan menggunakan metode focal animal sampling.

    Wilayah Jelajah  dan Jelajah Harian (Homerange)

    Wilayah jelajah adalah daerah tempat tinggal suatu binatang yang tidak dipertahankan terhadap masuknya binatang lain (spesies yang sama) kedalam daerah itu. Wilayah jelajah merupakan total area yang digunakan oleh

    sekelompok binatang didalam melaksankan aktivitasnya selama periode tertentu. Menurut Kappeler (1981) indikasi untuk membatasi wilayah jelajah adalah dengan melihat jalur yang dipilih setiap kelompok selama penjelajahan. Berdasarkan hasil pengamatan, monyet ekor panjang memiliki daerah wilayah jelajah di sekitar arboretum hutan bambu rektorat. Luas wilayah jelajah kelompok Macaca fascicularis adalah 200 m2. Wilayah jelajah relatif tidak luas disebabkan oleh keragaman jenis makanan yang rendah, populasi yang rendah serta habitat yang tidak terlalu besar.

    Kelompok monyet di lokasi ini memulai aktivitas ± jam 08.00 dan langsung bergerak ke arah pohon sumber pakan. Aktivitas pertama yang diamati yaitu makan di pohon bambu, dengan memakan pucuk-pucuk daun bambunya. Beberapa jam kemudian bergerak ke pohon yang dikira aman untuk kelompok tersebut untuk istirahat digunakan monyet ekor panjang ini untuk memberikan waktu yang optimal dalam mencerna makanan dalam waktu istirahat yang cukup panjang. Pada saat siang menjelang sore hari, kelompok tersebut kembali aktif mencari makan kemudian kembali ke sarang pada sore hari.

    Jarak tempuh aktivitas Macaca fascicularis dalam sehari rata-rata 50-70 m per setiap pengamatan. Jelajah harian dipengaruhi oleh tingginya gangguan aktivitas manusia di sekitar wilayah jelajah tersebut.

    Wilayah Teritori

    Luasan teritori

    Wilayah teritori Macaca fascicularis yaitu wilayah yang dipertahankan dengan aktif hingga tidak ada hewan lainnya yang beraktivitas di sekitar wilayah tersebut. seperti tempat tidur, tempat ketersediaan pakan, tempat kawin, dan sumber air. Luas wilayah teritori diperkirakan sekitar 3-4m2. Macaca jantan dominan berperilaku agresif untuk melindungi kelompoknya dan untuk mempertahankan sumber makanannya, macaca induk berperilaku agresif untuk melindungi anaknya, dan macaca jantan pradewasa berperilaku agresif untuk menjaga wilayah teritorinya.

    Gambar 1. Peta kampus IPB yang menunjukkan wilayah jelajah dan jelajah harian Macaca fascicularis.


    Relung Ekologi (Niche)

    Relung ekologi dapat didefinisikan sebagai jumlah total semua penggunaan sumber biotik dan abiotik oleh organisme di lingkungannya. Salah satu cara untuk menangkap konsep itu adalah melalui analogi yang dibuat oleh ahli ekologi Eugene Odum.

    Gambar 2. Pohon bambu merupakan niche Macaca fascicularis

    Relung suatu populasi monyet ekor panjang misalnya, terdiri dari banyak variabel, antara lain kisaran suhu yang dapat ia tolerir, ukuran pohon dimana ia bertengger, waktu siang hari ketika ia aktif, serta ukuran dan jenis daun bambu yang ia makan. Relung ekologi Macaca fascicularis meliputi pohon bambu yang dijadikan sumber pakan, tempat bermain, serta tempat istirahat, sungai yang terdapat di perbatasan di belakang rektorat yang dijadikan sebagai sumber air. Pohon bambu yang ada di hutan tersebut memiliki ketinggian rata-rata 10m.

    Makanan

    Monyet ekor panjang menggunakan vegetasi sebagai sumber pakan, tempat berlindung, tempat bermain, memelihara anak, dan berkembang biak. Kondisi habitat yang dibutuhkan oleh satwa ini yaitu menghasilkan sumer pakan yang cukup untuk mendapatkan energi dan tempat yang layak untuk melakukan aktivitas hariannya. Menurut Hadinoto (1993), kebutuhan pakan monyet ekor panjang setiap ekor perhari sebanyak 4% dari bobot tubuhnya, serta memerlukan air untuk minum sebanyak 1 liter per ekor setiap harinya. Untuk memperoleh air dalam memenuhi kebutuhannya, selain minum dari sumber air, Macaca fascicularis memanfaatkan embun yang menempel pada dedaunan dan air yang menggenang  pada batang-batang pohon (Alikodra 1990).

    Karena Macaca fascicularis adalah hewan pemakan tumbuhan, jadi diperkirakan Macaca fascicularis berada di lokasi tersebut karena tersedianya sumber air dan makanan. Dan pada pengamatan kali ini, Macaca fascicularis teramati sedang memakan daun bambu muda.

    Perilaku

    Macaca fascicularis ini hidup berrkelompok, dimana bisa mencapai hingga 30 ekor dalam tiap kelompok. Biasanya dalam setiap kelompok ada seekor adult male yang menjadi pemimpin dan mendominasi anggota yang lain. Hirarki dalam komunitasnya ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia, ukuran tubuh dan keahlian berkelahi.

    Dari perilaku makan, Macaca fascicularis mencari  makan secara berkelompok. Macaca fascicularis berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain dengan melompat dan berayun. Macaca fascicularis yang masih kecil lebih aktif bergerak dari pada yang sudah dewasa. Sedangkan perilaku seksual Macaca fascicularis sangat tidak baik untuk ditiru, karena dalam satu kelompok itu hanya ada satu pejantan. Jadi betina harus menuggu giliran karena hanya ada satu pejantan saja.

    Macaca fascicularis menunjukkan perilaku investigatif, yaitu memeriksa lingkungan. Monyet ini senang berpindah tempat melalui pohon yang ada di arboretum bambu ini. Setiap pindah, monyet ekor panjang ini selalu melihat sekeliling lingkungan tersebut.

    Macaca fascicularis aktif saat matahari mulai terlihat (sekitar pukul 08.30-09.30) kemudian kembali kesarang dan muncul kembali saat siang.

    Perilaku yang ditunjukan oleh Macaca fascicularis selama pengamatan yaitu 40 % berpindah tempat dari satu pohon ke pohon yang lain, 30 % makan pucuk-pucuk bambu, 20%  Macaca dewasa bermain dengan anak-anaknya dan 10%  Macaca betina menghampiri Macaca jantan dan melakukan kawin.

    KESIMPULAN

    • Luas wilayah jelajah kelompok Macaca fascicularis adalah 200 m2 di wilayah  Arboretum Hutan Bambu samping Rektorat dengan jarak tempuh aktivitas Macaca fascicularis dalam sehari adalah 50-70m setiap pengamatan.
    • Wilayah teritori Macaca fascicularis meliputi sumber makanan, sumber air, tempat kawin. Macaca jantan dominan berperilaku agresif untuk melindungi kelompoknya dan untuk mempertahankan sumber makanannya, macaca induk berperilaku agresif untuk melindungi anaknya, dan macaca jantan pradewasa berperilaku agresif untuk menjaga wilayah teritori.
      • Relung ekologi Macaca fascicularis meliputi pohon bambu yang dijadikan sumber pakan, tempat bermain, serta tempat istirahat, sungai yang terdapat di perbatasan di belakang rektorat yang dijadikan sebagai sumber air.
      • Perilaku Macaca fascicularis yang teramati yaitu perilaku ingestif (makan dan minum), berpindah-pindah tempat dari satu pohon ke pohon lainnya dan kawin.


    Daftar Pustaka

    Alikodra HS. 1990. Studi ekologi bekantan (Nasalis larvatus) di Hutan Lindung Bukit Soeharto Kalimantan Timur. Laporan penelitian kerjasama Depdikbud dan JICA.

    Bennet, B. T., R. C. Abee, and R. Henrickson. 1995. Nonhuman Primates in Biomedical Research Biology ang Management. Academic Press. New York.

    Hadinoto. 1993. Studi perilaku dan populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821) [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor

    Napier, J. R. and P. H. Napier. 1985. The Natural History of the Primates. The MIT Press, Cambridge, Massachusetts.

    Kappeler M. 1981. The Gibbon In Java. Edinburg: The Edinburg University Pr.


    LAPORAN PRAKTIKUM

    ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

    PERCOBAAN ATRAKTAN

    Kelompok 6

    Disusun oleh :

    Yunian Asih A. A34080020

    Rizki Haerunissa A34080024

    Rizki Pradana A34080057

    Risa Sondari A. A34080065

    Idho Dwiandri A34080084

    Dosen Pengajar:

    Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.

    Dr. Ir. I Wayan Winaya, M.Sc.

    DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

    FAKULTAS PERTANIAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    2010

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Serangga memiliki cara yang unik untuk berkomunikasi dengan serangga yang lain. Dengan bau atau senyawa kimia serangga saling memberikan informasi, dan mengetahui pasangannya. Zat komunikasi anatar serangga ini adalah feromon dan alelokimia.Feromon adalah zat kimia yang berperan dalam komunikasi antar oraganisme dari spesies yang sama, sedangkan alelokimia adalah zat kimia yang berperan dalam komunikasi antar organisme dari spesies yang berbeda. Alelokimia dibagi menjadi dua yaitu alomon, zat yang menghasilkan keintungan bagi organisme panghasil, dan khairomon, zat yang memberikan keuntungan bagi organisme yang menerima.

    Feromon yang sering digunakan serangga untuk berkomunikasi dengan sesama spesiesnya adalah dengan feromon seks, feromon alarm, dan feromon pelacak. Feromon seks digunakan untuk menarik serangga lain untuk melakukan proses reproduksi. Feromon ini dihasilkan oleh serangga betina untuk menarik serangga jantan untuk datang dan melakukan kopulasi. Feromon seks ini dapat berperan sebagai atraktan atau senyawa pemikat bagi serangga jantan. Dengan sifat serangga yang seperti ini maka dapat dikembangkan perangkap aroma dengan menggunakn atraktan yang memiliki aroma yang sama dengan feromon seks yang dihasilakn oleh serangga (Kusnaedi, 1999).

    Metil Eugenol merupakan atraktan yang sering digunakan untuk mengendalikan lalat buah  Bactrocera sp. Metil Eugenol sangat dibutuhkan oleh lalat jantan untuk dikonsumsi. Zat ini bersifat volatile atau menguap dan melepaskan aroma wangi dengan radius mencapai 20-100 m, tetapi jika dibantu oleh angin jangkauan bisa mencapai 3 km. Atraktan sintetik sudah banyak beredar dipasaran tetapi harganya cukup  mahal, dapat menimbulkan iritasi pada kulit, dan belum tentu berhasil dalam pengaplikasiannya. Selain dari bahan kimia sintetik, metil eugenol juga dapat dibuat secara langsung dari beberapa tanaman seperti  tanaman cengkeh, kayu putih, daun wangi, dan selasih (Kardinan, 2003).

    Atraktan nabati sangat dibutuhkan oleh para petani dan praktisi di bidang hortikultura, khususnya buah-buahan, sehingga teknologi ini sangat dinantikan oleh mereka. Atraktan nabati dapat digunakan di semua lokasi di mana tanaman hortikultura dibudidayakan. Hasil pengujian di beberapa daerah menunjukkan bahwa atraktan nabati ini mampu memerangkap lalat buah per minggunya dalam satu perangkap berkisar dari puluhan, ratusan hingga ribuan, bergantung pada komoditas, cuaca, dan lokasi. Atraktan mampu bertahan hingga satu bulan, namun pada minggu kedua daya tangkapnya sudah mulai menurun, sehingga penambahan atraktan perlu dilakukan setiap dua minggu.

    Penggunaan atraktan merupakan cara pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan, karena baik komoditas yang dilindungi maupun lingkungannya tidak terkontaminasi oleh atraktan. Selain itu atraktan ini tidak membunuh serangga bukan sasaran (serangga berguna seperti lebah madu, serangga penyerbuk atau musuh alami hama), karena bersifat spesifik, yaitu hanya memerangkap hama lalat buah, sehingga tidak ada risiko atau dampak negatif dari penggunaannya. Namun ada pula yang berpendapat atraktan kurang baik untuk upaya pengendalian laalat buah karena hanya menangkap serangga jantan saja (Primatani, 2006).

    Tujuan

    Tujuan dari praktikum percobaan atraktan kali ini adalah untuk mengetahui keefektifan atraktan (Metil eugenol) dalam menarik serangga khususnya lalat buah di lapangan.

    BAHAN DAN METODE

    Alat dan Bahan

    Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum percobaan atraktan kali ini antara lain metil eugenol beberapa ml yang akan digunakan sebagai atraktan (zat penarik). Beberapa ml insektisida untuk mematikan serangga yang masuk. Kapas untuk tempat dari metil eugenol dan insektisida yang digunakan. Alat suntik, untuk memasukkan metil eugenol dan insektisisda ke dalam kapas. Alat perangkap yang terbuat dari wadah plastik yang telah dilubangi kedua ujungnya. Kawat penggantung, yang akan digunakan untuk menggantungkan perangkap pada tumbuhan yang diamati. Kertas label untuk menandai alat perangkap. Dan areal taman koleksi sebagai lokasi pengamatan percobaan atraktan kali ini.

    Metode

    Pertama-tama yang dilakukan adalah wadah plastik diberi lubang pada sisi atas dan bawahnya. Pada bagian atas wadah plastik diberi kawat untuk menempelkan kapas dan kawat penggantung. Pada saat pemakaian, wadah plastik dimiringkan sehingga lubang terletak pada bagiian kiri dan kanan. Metil eugenol dimasukkan kedalam kapas dengan menggunakan jarum suntik sebanayak 2 ml ke dalam kapas. Kemudian masukkan juga 2 ml insektisida kedalam kapas meenggunakan jarum  suntik.

    Setiap grup melakukan peccobaan pemerangkapan dengan metil eugenol kali ini dengan menggunakan 2 alat perangkap yang telah diberi metil eugenol dan insektisisda. Alat perangkap kemuudian dibawa ke pertanaman dan digantungkan pada ranting daun yang kokoh untuk memastikan perangkap tidak jatuh. Alat perangkap dibiarkan di pertanaman selama satu minggu. Pengamatan diliakukan setiap hari atau minimal dua hari sekali. Setiap pengamatan dilakukan perhitungan berapa jumlah lalat buah yang ada di dalam perangkap baik yang hidup atau mati. Setelah satu minggu alat perangkap diambil dari pertanaman.

    Pada hari terakhir lalat buah yang terperangkap diambil dan dibungkus dengan kertas tissue dan dimasukkan kedalam wadah plastik, untuk kemudian lalat buah diidentifikasi spesiesnya. Alat perangkap setelah selesai digunakan dibersihkan dan kemudian dikembalikan kepada asisten atau laboran. Laporan hasil pengamatn dibuat per grup dengan menggunakan data kelompok dari praktikum.

    HASIL PENGAMATAN

    Tabel Percobaan atraktan 2 hari sekali

    Hari Jumlah Lalat Buah
    Kamis 21 ekor
    Sabtu 25 ekor
    Minggu 23 ekor
    Selasa 20 ekor

    Tabel Percobaan atraktan setiap hari

    Hari Jumlah Lalat Buah
    Rabu 24 ekor
    Kamis 21 ekor
    Jumat 27 ekor
    Sabtu 25 ekor
    Minggu 23 ekor
    Senin 21 ekor
    Selasa 20 ekor

    PEMBAHASAN

    Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dalam tiga cara, yaitu: mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, serta mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul, dan cara makan. Atraktan nabati dapat di peroleh dari tanaman yang mengandung bahan aktif yang bersifat paraferomon (sex feromon), senyawa (bahan aktif) yang memiliki aroma yang sama dihasilkan oleh serangga betina sehingga mampu menarik serangga jantan untuk datang.

    Penggunaan atraktan dengan menggunakan bahan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. (Kardinan, 2003). Atraktan bisa berupa bahan kimia yang dikenal dengan semio chemicals. Semio chemicals dapat mempengaruhi tingkah laku serangga, seperti mencari makanan, peletakkan telur, hubungan seksual dan lainnya. Salah satu dari semio chemicals adalah kairomones. Sejenis kairomones yang dapat merangsang olfactory (alat sensor) serangga adalah metil eugenol, yang merupakan atraktan lalat buah.

    Penggunaan atraktan merupakan cara pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan, karena baik komoditas yang dilindungi maupun lingkungannya tidak terkontaminasi oleh atraktan. Selain itu atraktan ini tidak membunuh serangga bukan sasaran (serangga berguna seperti lebah madu, serangga penyerbuk atau musuh alami hama), karena bersifat spesifik, yaitu hanya memerangkap hama lalat buah, sehingga tidak ada risiko atau dampak negatif dari penggunaannya.

    Hama lalat buah (Bactrocera sp.) merupakan hama utama buah. Inangnya banyak yaitu mangga, jambu air, jambu biji, cabai, papaya, nangka, jeruk, melon, ketimun, tomat, alpukat, pisang dan belimbing. Kerugian yang ditimbulkan dapat secara kuantitatif maupun kualitatif. Kerugian kuantitatif yaitu berkurangnya produksi buah sebagai akibat rontoknya buah yang terserang sewaktu buah masih muda ataupun buah yang rusak serta busuk yang tidak laku dijual. Kualitatif yaitu buah yang cacat berupa bercak, busuk berlubang dan berulat yang akhirnya kurang diminati konsumen. Kerusakan buah dapat mencapai 100% jika tidak dilakukan pengendalian secara tepat. Di Indonesia lalat ini mempunyai inang lebih dari 26 jenis yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan. Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dan dalam sehari mampu meletakkan telur sampai 40 butir. Telur kemudian menetas menjadi ulat dan merusak buah, sepanjang hidupnya seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800 butir.

    Penggunaan metil eugenol sebagai umpan beracun (insektisida) telah diuji penggunaannya. Senyawa pemikat yaitu metil eugenol yang berasal dari petrogenol mudah didapatkan di pasaran. Petrogenol dalam kemasan kecil (5 cc) di pasaran dijual seharga RP. 5.500. Senyawa pemikat (sex pheromone) bekerja sebagai penghubung antara individu jantan dan individu betina sehingga keduanya dapat menjalankan perilaku kawin dan kopulasi. Metil eugenol dikonsumsi oleh lalat jantan, kemudian di dalam tubuhnya diproses untuk menghasilkan sex pheromone yang diperlukan untuk menarik lalat betina (HEE dan TAN, 2001).

    Keefektifan  metal eugenol bergantung pada kondisi peletakan perangkap, semakin ternaungi sinar matahari semakin tahan lama dan sebaliknya semakin terbuka terhadap sinar matahari maka semakin cepat habisnya. Kandungan Metil Eugenol mencapai puncaknya pada pagi hari, dan mulai menurun sekitar jam 12-14, kemudian menghilang setelah jam 14 (Tan et al., 2002). Makin lama kandungan senyawa metal eugenol makin menipis karena terbawa angina. Hal ini terlihat dari grafik hari pertama hingga hari terakhir, semakin lama semakin berkurang jumlah serangga yang terperangkap.

    Serangga yang terperangkap pada percobaan metal eugenol adalah Bactrocera sp. jantan. Didominasinya jenis kelamin lalat buah oleh lalat jantan menunjukkan bahwa memang metil eugenol tersebut merupakan zat pemikat (atraktan) spesifik terhadap lalat buah berkelamin jantan yang digunakan lalat jantan sebagai makanan untuk selanjutnya diproses di dalam tubuhnya untuk menghasilkan zat pemikat terhadap lalat buah betina dalam proses perkawinan. Sampai saat ini belum ditemukan formula yang efektif untuk memerangkap lalat buah berkelamin betina (Warthen, 2002).

    Perangkap menggunakan senyawa metil eugenol memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya antara lain tidak membutuhkan biaya yang banyak, cara membuatnya mudah, tidak merusak biologis dari serangga yang terperangkap (Bactrocera sp.), tidak menimbulkan resistensi pada serangga hama tersebut. Sedangkan kelemahannya yaitu hanya dapat memerangkap Bactrocera sp. yang jantan saja. Hal ini disebabkan senyawa feromon yang terkandung dalam metil eugenol sebagai zat pemikat (atraktan) spesifik terhadap lalat buah berkelamin jantan.

    Metil eugenol dapat dihasilkan oleh tanaman, antara lain Melaleuca sp. dan Ocimum sp. (Kardinan, 2003).

    1. 1. Kemangi (Ocimum sp.)

    http://istanabenalu.blogspot.com/2009_1…ive.html

    Kemangi (Ocimum sp.) merupakan tanaman semak perdu yang tumbuh liar dan berpenampilan cukup rimbun. Kemangi (Ocimum sp.) memiliki bunga berwarna putih batang halus dengan daun pada setiap ruas, daun berwarna hijau muda dengan bentuk oval antara 3-4 cm (panjang). Kemangi (Ocimum sp.) memiliki aroma yang khas dengan tinggi tanaman antara 60–70 cm dari permukaan tanah, selain memiliki bunga, kemangi juga memiliki biji dengan ukuran 0,1 mm.

    Tanaman kemangi (Ocimum sp.) bersifat polymorphis. Berdasarkan senyawa utama (bahan aktif) dalam minyak yang berasal dari tanaman ocimum, maka dapat dibedakan menjadi 4 tipe yaitu: (1) tipe Eropa (methyl chavicol, linalool), (2) tipe Reunion (methyl chavicol, camphor), (3) tipe methyl cinnamate, dan (4) tipe eugenol (eugenol). Ada 11 jenis ocimum yang telah dikenal di dunia, empat diantaranya ada di Indonesia dengan nama daerah dan kandungan senyawa kimia yang berbeda-beda.

    Senyawa methyl eugenol tertinggi terdapat pada tipe eugenol yang berfungsi sebagai penarik (atraktan) lalat buah (B. Dorsalis) memiliki senyawa utama (bahan aktif) yang dapat di gunakan sebagai penarik (atraktan), senyawa utamanya mampu menarik hama lalat buah jantan masuk ke dalam perangkap.

    1. Nilam

    http://arissb.wordpress.com/2009/04/13/nilam/

    Minyak nilam merupakan bahan baku terpenting untuk industri karena minyak nilam mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: sukar tercuci, sukar menguap dibandingkan minyak atsiri lainnya, dapat larut dalam alcohol dan atsiri lainnya. Kandungan yang terdapat di dalam minyak nilam meliputi: patchouli alcohol, patchouli camphor, eugenol, benzaldehyde, cinnamic aldehuyde, dan cadinene. Kandungan nilam berupa eugenol dapat digunakan sebagai pestisida nabati jenis atraktan yang berfungsi sebagai penarik hama lalat buah.


    KESIMPULAN

    Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dengan tiga cara, yaitu mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, serta mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul, dan cara makan. Penggunaan atraktan dengan menggunakan bahan metil eugenol dengan dicampur insektisida merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Metil eugenol berupa sex pheromone cukup efektif dalam memerangkap hama, terutama Bactrocera sp. jantan. Metil eugenol dapat dihasilkan oleh tanaman, antara lain Melaleuca sp. dan Ocimum sp.

    DAFTAR PUSTAKA

    [Anonim].  2006. Aplikasi Penggunaan Atraktan Nabati. oleh: Prima Tani. http://primatani.litbang.deptan.go.id. [4 Mei 2010]

    Kardinan, A. 2003. Tanaman Pengendali Lalat Buah. hal 46. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

    Kusnaedi. 1999. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Jakarta: Tanindo Press

    Kuswadi, A.N., T. Himawan., Darmawi, M. Indarwatmi dan I.A. Nasution, 1999, “Pemantauan dan Pengendalian Populasi Lalat Buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancocl) dengan Metil Eugenol dalam Rangka Penerapan Teknik Serangga Mandul,” Prosiding Seminar Nasional PEI. Bogor. 293 – 300 pp.

    Tan, K.H., R. Nishida and Y.C. Toong. 2002. Floral synomone of a wild orchid Bulbophyllum cheiri, lures Bactrocera fruit flies for pollination. Journ. Of Chemical Ecology. XXVIII (6) : 1161-1172.

    Warthen, J.R. 2002. Volatile Potential Attractants from Ripe Coffee Fruit for Fruit Fly. USDA Subtropical Agriculture Research, Weslaco, USA. 6pp.

    PENDAHULUAN

    Latar belakang

    Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan sumber protein nabati bagi penduduk Indonesia, sehingga pemerintah mengharap-kan dapat tercapai swasembada kedelai. Produksi kedelai nasional hingga saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga masih harus mengimpor. Menurut Badan Pusat Statistik (2002), produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2001 adalah 1 juta ton dengan luas panen 827 ribu hektar. Kebutuhan kedelai dalam negeri pada tahun 2001 tersebut adalah 3,2 juta ton. Impor kedelai terus meningkat setiap tahun  karena kebutuhan kedelai untuk konsumsi per kapita per tahun penduduk Indonesia. yaitu 52 kg di perkotaan dan 104 kg di pedesaan (BPS, 2001).

    Seiring dengan berkembangnya industri makanan dan pakan ternak, permintaan terhadap komoditi kedelai meningkat pesat. Untuk memenuhi kebutuhan akan kedelai tersebut perlu ditingkatkan sasaran luas tanaman serta produktivitasnya. Salah satu kendala utama dalam usaha meningkatkan produksi kedelai adalah adanya serangan jasad pengganggu yaitu hama, penyakit, dan gulma.

    Tujuan

    Untuk mengetahui dan memahami beberapa penyakit penting pada tanaman kedelai serta beberapa rekomendasi pengendalian penyakitnya.

    TINJAUAN PUSTAKA

    Botani Tanaman Kedelai (Glycine max L.)

    Menurut Fachruddin (2000) tanaman kedelai dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

    Kerajaan          : Plantae

    Divisio             : Spermatophyta

    Subdivisio       : Angiospermae

    Kelas               : Dicotyledoneae

    Ordo                : Polypetales

    Famili              : Leguminoceae

    Genus              : Glycine

    Spesies            : Glycine max L. Merril

    Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah dikenal lama orang penduduk setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.

    Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara dan Indonesia. Beberapa kultivar kedelai putih budidaya di Indonesia, di antaranya adalah ‘Ringgit’, ‘Orba’, ‘Lokon’, ‘Darros’, dan ‘Wilis’. “Edamame” adalah sejenis kedelai berbiji besar berwarna hijau yang belum lama dikenal di Indonesia dan berasal dari Jepang. Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi.

    Kedelai merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit, sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kedelai dapat berubah penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah. Kedelai, khususnya kedelai putih dari daerah subtropik, juga merupakan tanaman hari-pendek dengan waktu kritis rata-rata 13 jam. Ia akan segera berbunga apabila pada masa siap berbunga panjang hari kurang dari 13 jam. Ini menjelaskan rendahnya produksi di daerah tropika, karena tanaman terlalu dini berbunga.

    Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endospperma. Embrio terletak diantara keping biji. Warna kulit biji kuning, hitam, hijau, coklat. Pusar biji (hilum) adalah jaringan bekas biji melekat pada dinding buah. Bentuk biji kedelai umumnya bulat lonjong tetapai ada pula yang bundar atau bulat agak pipih.Biji kedelai yang kering akan berkecambah bila memperoleh air yang cukup. Kecambah kedelai tergolong epigeous, yaitu keping biji muncul diatas tanah. Warna hipokotil, yaitu bagian batang kecambah dibawah kepaing, ungu atau hijau yang berhubungan dengan warna bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu berbunga ungu, sedang yang berhipokotil hijau berbunga putih. Kecambah kedelai dapat digunakan sebagai sayuran.

    Tanaman kedelai mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Selain berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman dan alat pengangkut air maupun unsur hara, akar tanaman kedelai juga merupakan tempat terbentuknya bintil-bintil akar. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum yang bersimbiosis secara mutualis dengan kedelai. Pada tanah yang telah mengandung bakteri ini, bintil akar mulai terbentuk sekitar 15 – 20 hari setelah tanam. Bakteri bintil akar dapat mengikat nitrogen langsung dari udara dalam bentuk gas N2 yang kemudian dapat digunakan oleh kedelai setelah dioksidasi menjadi nitrat (NO3).

    PENYAKIT PENTING PADA KEDELAI

    1. 1. Pustul

    Kebutuhan kedelai belum terpenuhi hanya dengan perluasan areal penanaman kedelai di berbagai daerah karena pertanaman kedelai sering terserang hama dan patogen diantaranya adalah bakteri Xanthomonas campestris pv. glycines penyebab penyakit pustul. Daerah pertanaman kedelai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, dan Sulawesi Selatan dinyatakan sebagai daerah yang sering terserang bak-teri penyebab pustul (Muchmud, 1989). Kedelai yang terserang bakteri pustul menjadi berkurang ukuran dan jumlah bijinya.

    Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. glycines. Gejala yang timbul pada daun dimulai dengan adanya bercak-bercak kecil berwarna hijau kekuning-kuningan, bagian tengah bercak agak menonjol. Bercak ini tidak tampak kebasah-basahan yang berbeda dengan gejala akibat umumnya bakteri. Pada varietas yang rentan bercak tersebut berkembang dan membesar, ukurannya bervariasi dari kecil hingga besar. Pustul dapat bersatu membentuk ukuran yang lebih besar. Jaringan daun akhirnya mengering dan seringkali daun menjadi sobek-sobek atau bolong. Gejala pustule bakteri sering dikacaukan dengan gejala karat daun akibat cendawan karat, tetapi pada gejala pustul tidak terdapat bentuk seperti lubang, sedangkan pada gejala karat terdapat lubang tempat keluarnya spora cendawan karat. Infeksi bakteri ini pada tanaman biasanya melalui luka, stomata (mulut daun) dan hidatoda (pori-pori air). Gejala penyakit biasanya mulai tampak pada tanaman kedelai yang setengah umur, 40 hari setelah tanam dan semakin parah dengan bertambahnya umur tanaman. Serangan penyakit yang parah dapat mengakibatkan gugurnya daun sebelum waktunya, sehingga pengisian polong tidak sempurna. Gejala penyakit dapat terlihat pada polong.

    Bakteri pustule biasanya ditularkan  melalui biji dan sisa-sisa tanaman di lapang. Bakterinya masuk melalui lubang alami atau melalui luka dan berkembang biak dalam ruangan antar sel. Perkembangan penyakit juga sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan terutama suhu dan kelembaban tinggi. Bakteri pustule dapat bertahan hidup dalam biji dan sisa tanaman di tanah. Dikatakan bahwa bakteri dapat bertahan dalam rhizosfer tanaman lain, antara lain gandum (Nyvall, 1979).  Pemencaran bakteri terutama terjadi karena percikan air hujan, terutama bila disertai dengan angin keras. Selain itu dapat terjadi karena daun saling bersinggungan dan karena alat pertanian pada waktu daun-daun basah.

    Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit antara lain cuaca basah dan suhu yang relatif tinggi, dengan suhu optimum 30-35 C. Di Indonesia penyakit lebih banyak terdapat pada musim hujan di dataran rendah (Muchmud, 1989). Penyakit dipengauhi oleh umur tanaman. Gejala penyakit biasanya mulai tampak pada tanaman kedelai setengah umur, kurang lebih 40 hari setelah tanam dan makin parah dengan bertambahnya umur.

    Penyakit pustul merupakan salah satu penyakit penting pada budidaya kedelai sehingga perlu dilakukan usaha pengendalian melalui ber-bagai cara. Penggunaan varietas kedelai resisten merupakan cara pengendalian penyakit pustul yang sering dianjurkan (Semangun, l990), Namun X. campestris pv. glycines mempunyai banyak strain yang masing-masing strain mempunyai fenotipe dan genotipe yang berbeda-beda sehingga tidak efektif jika dikendalikan dengan cara penggunaan varietas tahan.

    Penggunaan agensia hayati atau strep-tomisin sulfat terpadu dengan cara tanam tumpangsari untuk mengendalikan penyakit pustul di lapangan menurunkan keparahan penyakit berturut-turut adalah 44-54% untuk musim kemarau dan 45-49% untuk musim penghujan. Selain itu, dapat dilakukan penanaman biji yang tidak terinfeksi atau bebas patogen, menimbun dengan sempurna sisa-sisa tanaman setelah panen serta hindari rotasi dengan buncis dan kacang tonggak.

    PENDAHULUAN

    Negara Indonesia mempunyai keanekaragaman satwa liar yang tinggi dan tersebar di beberapa tipe habitat. Bermacam-macam jenis satwa liar ini merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk banyak kepentingan manusia. Primata merupakan hewan pertama yang berharga bagi manusia sebagai hewan kesayangan dan juga tercatat sebagai hewan tertua yang digunakan untuk subyek penelitian ilmiah. Salah satu diantaranya yang sering digunakan dalam penelitian ilmiah adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari genus Macaca (Bennet, 1995). Di Indonesia, monyet ini dapat ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau kecil lainnya (Napier dan Napier, 1985).

    Menurut Alikodra (1990) perilaku adalah kebiasaan–kebiasaan satwaliar  dalam aktivitas hariannya seperti sifat kelompok, waktu aktif, wilayah pergerakan,  cara mencari makan, cara membuat sarang, hubungan sosial, tingkah laku  bersuara, interaksi dengan spesies lainnya, cara kawin dan melahirkan anak. Wilayah jelajah (homerange) merupakan daerah yang dikunjungi satwaliar  secara tetap karena dapat mensuplai pakan, minuman serta mempunyai fungsi  sebagai tempat berlindung, bersembunyi, tempat tidur dan tempat kawin. kawin.  Daerah jelajah adalah  suatu daerah dimana satwa  tertentu pernah dilihat dan bergerak pindah dalam kurun waktu tertentu. Jelajah harian adalah jarak yang ditempuh monyet ekor panjang, sejak meninggalkan sarang tidur (pagi) sampai kembali ke sarang tidur (sore) dalam sehari. Teritori adalah tempat yang khas yang selalu dipertahankan dengan aktif misalnya tempat tidur untuk primata, tempat beristirahat untuk binatang  pengerat dan tempat bersarang untuk burung (Alikodra 1990).

    Relung (ekologi) adalah posisi unik yang ditempati oleh suatu spesies tertentu berdasarkan daerah fisik yang ditempati dan peranan yang dilakukan di dalam komunitasnya. Relung ekologi adalah jumlah total semua penggunaan sumber biotik dan abiotik oleh organisme di lingkungannya

    TUJUAN

    Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui wilayah jelajah, jelajah harian, wilayah teritori, relung ekologi (niche), dan perilaku (Macaca fascicularis) di kampus IPB Darmaga.

    TINJAUAN PUSTAKA

    Menurut Lang (2006) taksonomi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebagai berikut :

    Kelas               : Mamalia

    Ordo                : Primata

    Sub Ordo        : Anthropoidea

    Infra Ordo       : Catarrhini

    Super famili     : Cercopithecidea

    Famili              : Cercopithecidae

    Genus              : Macaca

    Spesies            : Macaca fascicularis

    Primata merupakan hewan pertama yang berharaga bagi manusia sebagai hewan kesayangan dan juga tercatat sebagai hewan tertua yang digunakan untuk subyek penelitian ilmiah. Salah satu diantaranya yang sering digunakan dalam penelitian ilmiah adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dari genus Macaca (Bennet, 1995). Macaca merupakan genus primata yang paling luas penyebarannya. Monyet ini dapat ditemukan di Maroko, Algeria, Gibraltar, Afganistan, India, Cina, Jepang, Filipina, dan seluruh Asia Tenggara kemudian meluas ke pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau kecil lainnya (Napier dan Napier, 1985). Sedangkan di Bali, monyet ekor panjang dapat ditemukan di beberapa lokasi diantaranya di obyek wisata Alas Kedaton, Alas Nenggan, Sangeh, Wanara Wana Padang Tegal Ubud, dan Pura Luhur Uluwatu.

    Monyet ekor panjang disebut juga long-tailed macaque, crab eating monkey, dan cinomoilgus monkeyMacaca fascicularis adalah satwa primata yang menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi untuk berjalan dan berlari (quandrapedalisme), memiliki ekor yang lebih panjang dari panjang kepala dan badan. Disamping itu, memiliki bantalan duduk (ischial sallosity) yang melekat pada tulang duduk (ischial) dan memiliki kantong makanan di pipi (cheek pouches) (Napier dan Napier, 1985).

    Lekagul dan McNeely (1977) juga menjelaskan Macaca fascicularis dinamakan monyet ekor panjang karena memiliki ekor yang panjang, berkisar antara 80% hingga 110% dari total panjang kepala dan tubuh. Ukuran tubuh jantan adalah 412 mm hingga 648 mm dengan bobot badan 4,7 kg hingga 8,3 kg. Betina mempunyai panjang 385 mm hingga 503 mm dengan bobot badan 2,5 hingga 5,7 kg. Ekor berbentuk silindris dan muscular serta ditutupi oleh rambut. Monyet ekor panjang mempunyai dua warna utama yaitu coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan dengan berbagai variasi menurut musim, umur dan lokasi (Lekagul dan McNeely,1977).

    Monyet ekor panjang merupakan satwa liar yang membutuhkan habitat untuk mendukung perkembangan hidupnya. Habitatnya tersebar mulai dari hutan hujan tropika, hutan musim sampai hutan rawa mangrove. Selain itu, Macaca fascicularis hidup pada habitat hutan primer dan sekunder mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1.000 m di atas permukaan laut. Monyet ekor panjang menggunakan vegetasi sebagai sumber pakan, tempat berlindung, tempat bermain, memelihara anak, dan berkembang biak. Kondisi habitat yang dibutuhkan oleh satwa ini yaitu menghasilkan sumer pakan yang cukup untuk mendapatkan energi dan tempat yang layak untuk melakukan aktivitas hariannya. Tetapi, dewasa ini monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sering mengalami gangguan baik terhadap habitatnya dan populasinya dengan tujuan eksploitasi usaha.

    Napier dan Napier (1985) menyatakan bahwa monyet ekor panjang bersifat diurnal (aktifitas pada siang hari), terrestrial (banyak melakukan aktifitas diatas tanah) dan tidur di atas pohon untuk menghindari pemangsa. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), genus Macaca sp. memiliki lama hidup 25-30 tahun, lama bunting 167 hari, umur disapih 5-6 bulan, umur dewasa 4,5-6,5 tahun, umur dikawinkan 36-48 bulan, siklus estrus 31 hari, periode estrus tiga sampai empat hari. Perkawinan terjadi sewaktu-waktu, ovulasi spontan pada hari kedua belas atau ketiga belas pada siklus estrus, implantasi 15-21 hari sesudah fertilisasi, jumlah anak satu ekor, jarang terjadi beranak dua ekor.

    Macaca fascicularis termasuk hewan omnivora, jenis makanannya adalah buah-buahan, akar-akaran, daun-daunan, serangga, hasil pertanian, daun muda, tempayah, biji-bijian, keong, udang dan mollusca. Kandungan zat makanan monyet terdiri 45-55% karbohidrat, 15-20 protein kasar, 3-5% lemak kasar, 2,5-5,5% serat kasar, 0,86%kalsium dan 0,47 fosfor. Makanan yang diberikan setiap hari sejumlah 4% dari bobot badan satwa. Pakan yang diberikan untuk monyet jantan dewasa 160 g/ekor/hari dan untuk monyet muda 80 g/ekor/hari.

    Pengamatan pendahuluan dilakukan terhadap perilaku agresif macaca dengan menggunakan metode scan sampling, focal sampling, dan continuous recording sampling (focal animals – all occurences sampling) untuk menentukan waktu dan lokasi pengamatan. Pengamatan perilaku agresif dilanjutkan dengan mencatat sekuens dan intensitas perilaku agresif.

    ALAT DAN METODE

    1. Alat

    Alat yang digunakan pada saat pengamatan perilaku Macaca fascicularis yang dilakukan di Arboretum Hutan Bambu antara lain binokuler untuk mengamati perilaku Macaca fascicularis dari kejauhan, kamera handphone untuk mengambil gambar Macaca fascicularis serta lingkungannya dan meteran untuk mengukur jarak antara pengamat dengan objek, mengukur ketinggian pohon yang digunakan objek dan mengukur  jarak wilayah jelajah, serta luasan wilayah teritori.

    1. Metode

    Penelitian dilakukan enam kali pengamatan di wilayah kampus IPB Darmaga. Penentuan wilayah jelajah harian, relung ekologi serta teritori Macaca fascicularis dilakukan berdasarkan penjumpaan visual di lokasi survey selama dua jam dengan asumsi setiap individu yang teramati adalah individu yang berbeda. Survey dilakukan dengan memasuki kawasan secara langsung. Perjalanan dari satu plot pengamatan  ke plot lainnya lumayan jauh. Alat yang digunakan selama pengamatan adalah binocular dan kamera handphone. Pengamatan perilaku makan, perilaku seksual dan jenis makanannya dilakukan secara visualisasi langsung. Untuk mendokumentasikan perilaku, pengamat menggunakan kamera handphone. Luas wilayah jelajah ditentukan dengan metode Minimum Convex  Polygon yang terdapat dalam software ArcView. Metode ini menghubungkan titik-titik koordinat terluar tempat bekantan beraktivitas.

    PEMBAHASAN

    Pengamatan dilakukan hanya pada satu zona yaitu di zona 3, di arboretum hutan bambu samping rektorat karena persebaran monyet ekor panjang di kampus IPB Darmaga hanya ada pada zona ini saja dan merupakan habitatnya. Pengamatan dilakukan sebanyak 6 kali, dimulai pukul 08.00 selama dua jam. Pada saat pengamatan, jarak antara objek dengan pengamat yaitu sekitar 10m. Monyet ekor panjang pertama terlihat sedang makan diatas pohon. Ketinggian  tempat monyet hinggap pada pohon bambu dari tanah adalah 5 m. Kelompok monyet yang terlihat sekitar 7-8 ekor. Pengamatan pendahuluan dilakukan terhadap perilaku agresif macaca dengan menggunakan metode focal animal sampling.

    Wilayah Jelajah  dan Jelajah Harian (Homerange)

    Wilayah jelajah adalah daerah tempat tinggal suatu binatang yang tidak dipertahankan terhadap masuknya binatang lain (spesies yang sama) kedalam daerah itu. Wilayah jelajah merupakan total area yang digunakan oleh sekelompok binatang didalam melaksankan aktivitasnya selama periode tertentu. Menurut Kappeler (1981) indikasi untuk membatasi wilayah jelajah adalah dengan melihat jalur yang dipilih setiap kelompok selama penjelajahan. Berdasarkan hasil pengamatan, monyet ekor panjang memiliki daerah wilayah jelajah di sekitar arboretum hutan bambu rektorat. Luas wilayah jelajah kelompok Macaca fascicularis adalah 200 m2. Wilayah jelajah relatif tidak luas disebabkan oleh keragaman jenis makanan yang rendah, populasi yang rendah serta habitat yang tidak terlalu besar.

    Kelompok monyet di lokasi ini memulai aktivitas ± jam 08.00 dan langsung bergerak ke arah pohon sumber pakan. Aktivitas pertama yang diamati yaitu makan di pohon bambu, dengan memakan pucuk-pucuk daun bambunya. Beberapa jam kemudian bergerak ke pohon yang dikira aman untuk kelompok tersebut untuk istirahat digunakan monyet ekor panjang ini untuk memberikan waktu yang optimal dalam mencerna makanan dalam waktu istirahat yang cukup panjang. Pada saat siang menjelang sore hari, kelompok tersebut kembali aktif mencari makan kemudian kembali ke sarang pada sore hari.

    Jarak tempuh aktivitas Macaca fascicularis dalam sehari rata-rata 50-70 m per setiap pengamatan. Jelajah harian dipengaruhi oleh tingginya gangguan aktivitas manusia di sekitar wilayah jelajah tersebut.

    Wilayah Teritori

    Luasan teritori

    Wilayah teritori Macaca fascicularis yaitu wilayah yang dipertahankan dengan aktif hingga tidak ada hewan lainnya yang beraktivitas di sekitar wilayah tersebut. seperti tempat tidur, tempat ketersediaan pakan, tempat kawin, dan sumber air. Luas wilayah teritori diperkirakan sekitar 3-4m2. Macaca jantan dominan berperilaku agresif untuk melindungi kelompoknya dan untuk mempertahankan sumber makanannya, macaca induk berperilaku agresif untuk melindungi anaknya, dan macaca jantan pradewasa berperilaku agresif untuk menjaga wilayah teritorinya.

    Gambar 1. Peta kampus IPB yang menunjukkan wilayah jelajah dan jelajah harian Macaca fascicularis.

    Relung Ekologi (Niche)

    Relung ekologi dapat didefinisikan sebagai jumlah total semua penggunaan sumber biotik dan abiotik oleh organisme di lingkungannya. Salah satu cara untuk menangkap konsep itu adalah melalui analogi yang dibuat oleh ahli ekologi Eugene Odum.

    Gambar 2. Pohon bambu merupakan niche Macaca fascicularis

    Relung suatu populasi monyet ekor panjang misalnya, terdiri dari banyak variabel, antara lain kisaran suhu yang dapat ia tolerir, ukuran pohon dimana ia bertengger, waktu siang hari ketika ia aktif, serta ukuran dan jenis daun bambu yang ia makan. Relung ekologi Macaca fascicularis meliputi pohon bambu yang dijadikan sumber pakan, tempat bermain, serta tempat istirahat, sungai yang terdapat di perbatasan di belakang rektorat yang dijadikan sebagai sumber air. Pohon bambu yang ada di hutan tersebut memiliki ketinggian rata-rata 10m.

    Makanan

    Monyet ekor panjang menggunakan vegetasi sebagai sumber pakan, tempat berlindung, tempat bermain, memelihara anak, dan berkembang biak. Kondisi habitat yang dibutuhkan oleh satwa ini yaitu menghasilkan sumer pakan yang cukup untuk mendapatkan energi dan tempat yang layak untuk melakukan aktivitas hariannya. Menurut Hadinoto (1993), kebutuhan pakan monyet ekor panjang setiap ekor perhari sebanyak 4% dari bobot tubuhnya, serta memerlukan air untuk minum sebanyak 1 liter per ekor setiap harinya. Untuk memperoleh air dalam memenuhi kebutuhannya, selain minum dari sumber air, Macaca fascicularis memanfaatkan embun yang menempel pada dedaunan dan air yang menggenang  pada batang-batang pohon (Alikodra 1990).

    Karena Macaca fascicularis adalah hewan pemakan tumbuhan, jadi diperkirakan Macaca fascicularis berada di lokasi tersebut karena tersedianya sumber air dan makanan. Dan pada pengamatan kali ini, Macaca fascicularis teramati sedang memakan daun bambu muda.

    Perilaku

    Macaca fascicularis ini hidup berrkelompok, dimana bisa mencapai hingga 30 ekor dalam tiap kelompok. Biasanya dalam setiap kelompok ada seekor adult male yang menjadi pemimpin dan mendominasi anggota yang lain. Hirarki dalam komunitasnya ditentukan oleh beberapa faktor seperti usia, ukuran tubuh dan keahlian berkelahi.

    Dari perilaku makan, Macaca fascicularis mencari  makan secara berkelompok. Macaca fascicularis berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain dengan melompat dan berayun. Macaca fascicularis yang masih kecil lebih aktif bergerak dari pada yang sudah dewasa. Sedangkan perilaku seksual Macaca fascicularis sangat tidak baik untuk ditiru, karena dalam satu kelompok itu hanya ada satu pejantan. Jadi betina harus menuggu giliran karena hanya ada satu pejantan saja.

    Macaca fascicularis menunjukkan perilaku investigatif, yaitu memeriksa lingkungan. Monyet ini senang berpindah tempat melalui pohon yang ada di arboretum bambu ini. Setiap pindah, monyet ekor panjang ini selalu melihat sekeliling lingkungan tersebut.

    Macaca fascicularis aktif saat matahari mulai terlihat (sekitar pukul 08.30-09.30) kemudian kembali kesarang dan muncul kembali saat siang.

    Diagram Chart Pie Persentase Perilaku Macaca fascicularis

    Perilaku yang ditunjukan oleh Macaca fascicularis selama pengamatan yaitu 40 % berpindah tempat dari satu pohon ke pohon yang lain, 30 % makan pucuk-pucuk bambu, 20%  Macaca dewasa bermain dengan anak-anaknya dan 10%  Macaca betina menghampiri Macaca jantan dan melakukan kawin.

    KESIMPULAN

    • Luas wilayah jelajah kelompok Macaca fascicularis adalah 200 m2 di wilayah  Arboretum Hutan Bambu samping Rektorat dengan jarak tempuh aktivitas Macaca fascicularis dalam sehari adalah 50-70m setiap pengamatan.
    • Wilayah teritori Macaca fascicularis meliputi sumber makanan, sumber air, tempat kawin. Macaca jantan dominan berperilaku agresif untuk melindungi kelompoknya dan untuk mempertahankan sumber makanannya, macaca induk berperilaku agresif untuk melindungi anaknya, dan macaca jantan pradewasa berperilaku agresif untuk menjaga wilayah teritori.
      • Relung ekologi Macaca fascicularis meliputi pohon bambu yang dijadikan sumber pakan, tempat bermain, serta tempat istirahat, sungai yang terdapat di

    perbatasan di belakang rektorat yang dijadikan sebagai sumber air.

    • Perilaku Macaca fascicularis yang teramati yaitu perilaku ingestif (makan dan minum), berpindah-pindah tempat dari satu pohon ke pohon lainnya dan kawin.

    DAFTAR PUSTAKA

    Alikodra HS. 1990. Studi ekologi bekantan (Nasalis larvatus) di Hutan Lindung Bukit Soeharto Kalimantan Timur. Laporan penelitian kerjasama Depdikbud dan JICA.

    Bennet, B. T., R. C. Abee, and R. Henrickson. 1995. Nonhuman Primates in Biomedical Research Biology ang Management. Academic Press. New York.

    Hadinoto. 1993. Studi perilaku dan populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821) [Skripsi]. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor

    Kappeler M. 1981. The Gibbon In Java. Edinburg: The Edinburg University Pr.

    Napier, J. R. and P. H. Napier. 1985. The Natural History of the Primates. The MIT Press, Cambridge, Massachusetts.